Blog

PERANAN KONSULTAN PENGAWAS PADA PEKERJAAN KONSTRUKSI

PERANAN KONSULTAN PENGAWAS PADA PEKERJAAN KONSTRUKSI

Konsultan Pengawas adalah pihak yang ditunjuk oleh pihak pemilik pekerjaan (owner) untuk melaksanakan kegiatan pengawasan. Konsultan Pengawas biasanya berupa badan usaha karena dalam kegiatan pengawasan pekerjaan konstruksi memerlukan sumber daya yang ahli pada bidangnya masing-masing seperti teknik sipil, arsitektur, mekanikal, elektrikal dan lain lain sehingga kegiatan konstruksi tersebut dapat dilaksanakan dengan tepat waktu dan tepat guna seperti yang telah direncanakan oleh Konsultan Perencana.

Konsultan Pengawas dalam suatu kegiatan konstruksi mempunyai tugas sebagai berikut :

  • Membuat segala bentuk administrasi proyek
  • Melakukan pengawasan rutin dalam perjalan kegiatan konstruksi dari segi mutu, waktu dan biaya
  • Memberikan saran dan pertimbangan mengenai desain dan metode pelaksanaan kepada owner dan kontraktor
  • Memeriksa gambar kerja yang dibuat oleh kontraktor sebelum pekerjaan dimulai
  • Memeriksa dan menyetujui penggunaan material yang digunakan oleh kontraktor terhadap kesesuaian dengan spesifikasi dari konsultan perencana dan owner.
loading…

Konsultan pengawas dalam suatu kegiatan konstruksi mempunyai wewenang seebagai berikut :

  • Memperingatkan atau menegur kontraktor jika terjadi penyimpangan dalam melaksanakan kegiatan konstruksi
  • Memberikan tanggapan atas usul perubahan dari pihak kontraktor
  • Konsultan pengawas berhak merubah gambar desain jika terjadi ketidaksesuaian dengan kondisi aktual lapangan dan melaporkan kepada pihak owner dan konsultan perencana
  • Memberikan rekomendasi pembayaran termin dari progress yang telah dicapai kontraktor

Jika ingin mengetahui lebih detail atau tertarik menggunakan jasa kami agar proyek dapat berjalan lebih efisien dapat menghubungi team kami melalui :
Email : andalan@andes.web.id
Whatsapp : 0812-2085-1981
Hp : 0811-2104-311

SURVEY PEMETAAN LEBIH CEPAT DENGAN DRONE

SURVEY PEMETAAN LEBIH CEPAT MENGGUNAKAN DRONE

Survey topografi adalah bagian penting dari semua proyek pengembangan lahan. biasanya, survey topografi dilakukan secara terestris atau menggunakan alat darat untuk pengamatan tinggi muka tanah. survey ini memang cukup akurat, namun memerlukan waktu yang lama untuk menyisir daerah survey. Sebelum sebuah wilayah dapat dibangun, survey topografi yang akurat diperlukan karena beberapa alasan:

  • Untuk memastikan pengembangan lahan awal (perubahan fisik tanah) berhasil sehingga memungkinkan aliran air yang tepat untuk drainase.
  • Untuk mendokumentasikan topografi dalam kaitannya dengan kondisi bencana untuk pencegahan kerusakan dan asuransi.
  • Untuk melihat konektivitas lokasi dengan wilayah sekitarnya. Apakah alat transportasi dapat masuk dan menciptakan alur distribusi yang optimal.
  • Untuk mengukur nilai tanah yang disesuaikan dengan nilai pajak tanah, kaitannya dengan kepemilikan dan harga suatu bangunan.

Untuk itu, diperlukan cara-cara agar pelaksanaan survey proyek dapat terlaksana dengan cepat dan efektif yang bertujuan untuk mengurangi biaya operasional yang besar dalam pelaksanaan proyek. Survei topografi tradisional membutuhkan pengumpulan poin GPS (atau “shots”) dalam grid yang ditentukan sebelumnya.

Misalnya saja untuk area seluas 85 hektar. Dengan kondisi grid 50×50, Pemotretan GPS dikumpulkan setiap 50 kaki di setiap cross grid. Artinya sebanyak 1.632 shots GPS dikumpulkan di area survey seluas 85 hektar. Tanpa menggunakan drone, survey lapangan dapat mengumpulkan ± 20 poin / jam (1 poin setiap 3 menit atau lebih), survey shots GPS akan memakan waktu sekitar 82 jam. 82 jam survey lapangan berarti bahwa pengembang proyek akan menunggu setidaknya 1 minggu kerja lapangan sebelum pemrosesan dan peninjauan data. Setelah itu, dibutuhkan 3-4 hari lagi sebelum hasil akhir dapat dikirimkan.

loading…

Survey topografi yang sama seluas 85 hektar dengan menggunakan teknologi drone (UAV), dapat dilakukan jauh lebih cepat dan efisien. Pertama, tidak perlu mengumpulkan 1,600+ titik GPS di seluruh areal. Sebagai gantinya, UAV hanya memerlukan pengumpulan data GPS survey pada 10 target kontrol tanah (atau GCP), yang ditempatkan secara strategis dalam area survey. GCP ini hitungannya dapat disesuaikan dengan kondisi lapangan. Jadi jelas perbandingannya. 10 target GCP vs. 1.632 poin survey. 10 target GCP ini akan menjadi satu-satunya poin yang dikumpulkan dan dapat diselesaikan dalam waktu tidak lebih dari 1-2 jam. UAV Data Collection (1 jam) + GPS Survey Collection (5.8 jam) jadi total waktu untuk kerja lapangan: 6,8 jam.

Perbandingan:
Drone (UAV) survey = 6,8 jam
Survey lapangan menggunakan Total Station atau GPS = 81,6 jam
Total penghematan 74,8 jam

Dengan menggunakan teknologi Drone (UAV) survey mapping, pengembang wilayah dapat melakukan survey topografi kira-kira 75 jam lebih cepat dari survey lapangan tradisional. 75 jam dapat menghemat biaya yang besar dalam puluhan dan ratusan juta.

Jika ingin mengetahui lebih detail atau tertarik menggunakan jasa kami agar proyek dapat berjalan lebih efisien dapat menghubungi team kami melalui :
Email : andalan@andes.web.id
Whatsapp : 0812-2085-1981
Hp : 0811-2104-311

PERANAN DRONE DALAM MEMBANTU PEKERJAAN KONSTRUKSI

PERANAN DRONE DALAM MEMBANTU PEKERJAAN KONSTRUKSI

Project Monitoring & Site Inspection
Monitoring project secara live / langsung dengan drone dapat dilakukan dengan mudah dengan menggunakan drone sebagai alat bantu untuk melihat pandangan dari udara memberikan pandangan yang berbeda dari pemantauan site dari daratan, membantu mereka menangkap masalah yang mungkin tidak mereka sadari di permukaan tanah.

Memantau Lebih Efisien
Pemantauan dengan menggunakan drone yang bersifat periodik berkala dapat secara signifikan mengurangi jumlah waktu yang Anda habiskan untuk memantau seluruh lokasi proyek untuk keperluan inspeksi dan pemantauan.

Informasi Jelas dan Akurat
Drone membuat kolaborasi dan berbagi informasi, baik secara internal maupun eksternal, lebih mudah daripada sebelumnya. Dalam rapat kontraktor dapat menginformasikan citra drone sebagai informasi yang akurat dan jelas tentang masalah pekerjaan yang sedang dihadapi. Memiliki citra drone yang terkini membantu mendistribusikan informasi secara efisien sehingga permasalahan di proyek dapat tersampaikan dan segera dicari solusinya.

Jika ingin mengetahui lebih detail atau tertarik menggunakan jasa kami agar proyek dapat berjalan lebih efisien dapat menghubungi team kami melalui :
Email : andalan@andes.web.id
Whatsapp : 0812-2085-1981
Hp : 0811-2104-311

loading…

DRONE UNTUK MEMETAKAN KAWASAN

DRONE UNTUK MEMETAKAN KAWASAN

Apa Itu Drone

Drone atau UAV (Unmanned Air Vehicle) merupakan jenis pesawat terbang yang dikendalikan alat sistem kendali jarak jauh lewat gelombang radio. UAV biasanya dilengkapi alat atau sistem pengendali terbang melalui gelombang radio, navigasi presisi (Ground Positioning System – GPS), dan elektronik control penerbangan serta kamera resolusi tinggi.

Ada dua jenis drone: multicopter dan fixed wing. Multicopter berbentuk helicopter dengan beberapa baling-baling sejajar horizontal sedangkan fixed wing seperti pesawat mini dengan baling-baling vertikal.Multicopter berfungsi sebagai inspeksi dan dokumentasi karena memiliki kestabilan yang sangat bagus sedangkan fixed wing biasanya digunakan untuk pemetaan (scanning) serta mempunyai jangkauan lebih luas dan pergerakan yang lebih cepat.

Pemetaan Udara dan Fotogrametri

Data penginderaan jarak jauh telah banyak digunakan untuk identifikasi dan pemantauan kondisi kawasan hutan. Penggunaan citra satelit optik seringkali terkendala oleh tutupan awan, ketergantungan pada penyedia data, harga yang relatif mahal, dan waktu akuisisi dan lokasi data yang diperlukan tidak  fleksibel. Terlepas dari kendala tersebut, penggunaan drone  punya prospek yang baik untuk digunakan secara operasional baik di sektor kehutanan maupun sektor yang lain.

Dengan menggunakan drone, survei udara dengan tujuan pemetaan dan fotogrametri bisa lebih mudah, murah, serta cepat. Drone yang dapat terbang rendah akan menghasilkan resolusi peta citra yang tinggi (hingga 2 sentimeter per piksel), serta bentuknya yang ringkas membuatnya mudah diterbangkan di mana saja. Umumnya, industri yang menggunakan drone untuk pemetaan adalah industri perkebunan kelapa sawit, hutan tanaman industri, dinas pekerjaan umum, hingga kontraktor yang ingin melihat perkembangan proyeknya.

Pengadaan data geo-spasial dalam rangka pemetaan suatu daerah antara lain dapat dilakukan melalui metode terrestrial (pengukuran langsung di lapangan), fotogrametri (pemotretan udara), penginderaan jauh, GPS. Fotogrametri adalah suatu metode pemetaan objek-objek di permukaan bumi yang menggunakan foto udara sebagi media, dengan hasil peta garis, peta digital maupun peta foto. Secara umum fotogrametri merupakan teknologi geo-informasi dengan memanfaatkan data geo-spasial yang diperoleh melalui pemotretan udara.

Metode fotogrametri banyak dipakai dalam pembuatan geo-informasi karena obyek yang terliput terlihat apa adanya, produk dapat berupa peta garis, peta foto, atau kombinasi peta foto-peta garis, proses pengambilan data geo-spatial relatif cepat, dan efektif untuk cakupan daerah yang relatif luas. Sebagai bahan dasar dalam pembuatan geo-informasi secara fotogrametris yaitu foto udara yang saling bertampalan (overlaped foto). Umumnya foto tersebut diperoleh melalui pemotretan udara pada ketinggian tertentu menggunakan pesawat udara.

Ground Sampling Distance (GSD) atau resolusi spasial merupakan rasio antara nilai ukuran citra digital (pixel) dengan nilai ukuran sebenarnya (cm) yang dihitung dalam bentuk cm/pixel (5 cm/pixel berarti 1 pixel pada citra = 5 cm pada ukuran sebenarnya). GSD menentukan kualitas citra udara yang dihasilkan. Sebagai pembanding, berikut adalah GSD dari peta citra dari  berbagai sumber:

  • GSD pada citra Google Earth rata-rata adalah 1,5 m/pixel untuk area rural dan 60 cm/pixel untuk area perkotaan (diambil dari Digital Globe).
  • GSD pada citra Quickbird (satelit penyedia citra yang cukup ternama) adalah 60 cm/pixel.
  • GSD pada citra GeoEye-1 (satelit penyedia citra terbaik dan terbaru) adalah 40 cm/pixel
  • GSD pada peta yang dihasilkan droneadalah antara 15 cm/pixel hingga 5 cm/pixel, atau bahkan hingga 1 cm/pixel untuk area sangat kecil  (< 60 ha).

Jadi, semakin kecil nilai GSD sebuah citra, semakin baik resolusinya. Besarnya resolusi spasial foto atau GSD ditentukan oleh ketinggian terbang pada saat proses akuisisi data foto udara sehingga pemotretan harus dilakukan pada ketinggian yang tepat untuk mendapatkan GSD yang diharapkan.

Ground Control Point
Titik kontrol tanah merupakan objek di permukaan bumi yang dapat diidentifikasi dan memiliki informasi spasial sesuai dengan sistem referensi pemetaan. Informasi spasial dalam bentuk koordinat X, Y, Z atau Lintang Bujur dan ketinggian dari setiap GCP diukur dengan menggunakan GPS geodetik berketelitian sub-meter. Keperluan GCP yang paling utama adalah proses georeferensi hasil pengolahan foto sehingga memiliki sistem referensi sesuai dengan yang dibutuhkan pada hasil pemetaan. GCP ini juga digunakan pada saat data processing untuk membantu proses koreksi geometri pada mosaic orthophoto, sehingga akurasi dari peta yang dihasilkan akan tinggi. Secara khusus GCP berfungsi pula sebagai:

  • Faktor penentu ketelitian geometris hasil olah foto (ortofoto, DSM, DTM), semakin teliti GCP maka semakin baik pula ketelitian geometris output (dengan kaidah-kaidah peletakan GCP yang dipenuhi).
  • Faktor yang mempermudah proses orientasi relatif antar foto sehingga keberadaan GCP bisa meningkatkan akurasi geometrik dari peta foto.
  • Faktor koreksi hasil olah foto yang berupa ball effect atau kesalahan yang mengakibatkan model 3D akan berbentuk cembung ditengah area yang diukur.
  • Faktor yang mempermudah dalam proses penyatuan hasil olah data yang terpisah, misal olah data area A dan area B dengan lebih cepat dan efektif, daripada proses penyatuan berdasar seluruh pointcloud (jumlahnya jutaan) yang akan memakan banyak waktu.

Pada dasarnya, penggunaan GCP bersifat opsional. GCP membantu meningkatkan akurasi peta yang dihasilkan (hingga ± 10 cm), sehingga konsekuensi tidak digunakannya GCP hanyalah akurasi peta yang dihasilkan menjadi rendah (antara ± 6 – 12 m). Penggunaan GCP pun diatur sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu jarak antar GCP maksimal 2,5 kilometer. Pemasangan GCP memakan waktu cukup lama, dengan kapasitas 6-10 GCP/hari (sesuai kondisi lapangan), yang dilakukan sebelum proses akuisisi data foto udara dilakukan. Untuk kasus pembuatan peta topografi, peran GCP cukup penting. Dengan menggunakan GCP, peta topografi yang dihasilkan dapat memiliki akurasi Z yang tinggi, sehingga kondisi geografis pada daerah dapat dianalisis dengan tingkat kepercayaan (confidence level) yang tinggi.

Setiap GCP harus memiliki premark atau tanda agar dapat terlihat pada foto udara. Premark dapat berupa lingkaran atau tanda silang (+) yang memiliki 4 sayap dan memotong titik kontrol. Premark yang akan dipasang sendiri merupakan marka berbahan kain berwarna oranye dengan ukuran minimum premark di foto udara adalah panjang 10 piksel dan lebar 3 piksel untuk masing – masing sayap premark. Ukuran premark sebenarnya di lapangan menyesuaikan nilai resolusi tanah pemotretan udara atau sekitar 100 x 40 cm.

Koordinat titik-titik kontrol akan diukur menggunakan GPS Geodetik dengan sistem RTK. Sistem RTK (Real-Time Kinematic) adalah suatu akronim yang sudah umum digunakan untuk sistem penentuan posisi real-time secara diferensial menggunakan data fase. Untuk merealisasikan tuntutan real-time, stasiun referensi harus mengirimkan data fase dan pseudorange ke pengguna secara real-time menggunakan sistem komunikasi data tertentu. Seluruh GCP diikatkan pada satu Benchmark milik Badan Informasi Geospasial (BIG) yang terletak di sekitar area, sebagai base lokal. Dengan menggunakan metode ini, peta yang dihasilkan akan sesuai dengan standar pemetaan, serta memiliki referensi koordinat global.

Aplikasi Drone Untuk Pemetaan Lahan

Penggunaan drone secara komersial di Indonesia banyak bermula dari munculnya kebutuhan akan data aktual dan faktual.. Sebelumnya, data tersebut didapatkan oleh perusahaan melalui citra satelit. Sayangnya, masih banyak keterbatasan yang dimiliki citra satelit, antara lain:

  • Keterbatasan resolusi spasial yang disajikan yaitu di kisaran 30 cm/pixel untuk citra berbayar dan 60-150 cm/pixel untuk citra gratis (Google Earth), padahal yang dibutuhkan adalah resolusi spasial di bawah 15 cm/pixel agar dapat mengekstrak informasi lebih mendalam seperti jumlah pokok, kondisi kesehatan pokok dilihat dari warna, hingga mencari daerah sisipan.
  • Aktualitas data. Biasanya, data citra satelit terbagi dua jenis: terkini dan arsip. Harga citra terkini umumnya lebih mahal, sedangkan harga citra arsip lebih murah namun bukanlah data aktual (biasanya diambil beberapa bulan sebelum).
  • Lead time yang panjang apabila memesan data citra satelit terkini, karena satelit tidak dapat serta merta menuju titik lokasi yang citranya akan diambil, namun harus menunggu saat yang tepat yaitu pada saat mengorbit tepat di atas titik lokasi, serta harus dipastikan titik lokasi sedang memiliki cuaca bagus dan tidak berawan.
  • Cloud Percentage yang biasanya memiliki nilai 5 persen, karena sampai saat ini belum ditemukan teknologi kamera tembus awan. Selain itu, apabila membutuhkan citra cloud free, umumnya ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan, serta waktu tambahan untuk memastikan seluruh citra bebas awan.
  • Adanya minimum order, yaitu pada 100 sqkm atau 10,000 hektar. Hal ini menjadi kurang ekonomis bagi pemilik lahan kecil.

Dari permasalahan-permasalahan di atas, munculah teknologi drone sebagai solusi, di mana drone ini memiliki keunggulan sebagai berikut:

  • Resolusi spasial yang sangat tinggi yaitu hingga 5 cm/pixel, dibandingkan satelit yang hanya 30 cm/pixel.
  • Data aktual, karena citra diambil pada saat dibutuhkan.
  • Lead time yang pendek. Dengan kapasitas pengambilan dan pengolahan data hingga 70,000 hektar per minggu, lead time yang dibutuhkan akan sangat singkat dibandingkan dengan citra satelit.
  • Cloud free karena drone terbang di bawah awan.
  • Mobilisasi yang mudah dan dapat dioperasikan di kondisi geografis seperti apapun.
loading…

Secara singkat alur kerja penggunaan drone untuk pemetaan lahan adalah sebagai berikut :

  • Perencanaan penerbangan
    Menentukan titik terbang baik titik landing maupun take off serta wilayah yang akan diambil data photonya. Dengan kemajuan teknologi sekarang ini banyak ada beberapa teknologi fixed wing yang tidak memerlukan titik gcp lagi karena sudah ditanamkan gps pada pesawat tersebut.
  • Persiapan Take off
    Sebelum terbang selalu diperhatikan kondisi lingkungan sekitar seperti arah angin dan ganguan lain yang menggangu penerbangan.
  • Pengambilan data terbang
    Di dalam pengambilan data setelah take off yang perlu diperhatikan adalah untuk pilot selalu memperhatikan pesawat masih tetap dijalur terbang yang ditentukan sedangkan co pilot melakukan pengawasan terhadap penerbangan pesawat tersebut. Dalam pengambilan data pada awal perencanaan sudah ditentukan berapa ketinggian terbang dan berapa lama waktu terbangnya dimana semakin detai dan akurat data yang akan diambil makan semakin lama waktu dan semakin rendah tinggi terbangnya.
  • Persiapan landing

  • Setelah selesai dalam pengambilan data sesuai dengan perncanaan penerbangan maka yang perlu dipersiapkan adalah persiapan untuk landing dimana disini dituntut untuk mempersiapkan bahwa lokasi landing harus benar benar clear area.
  • Pengolahan data
    Setelah kegiatan dilapangan selesai dilakukan pengolahan data dengan software pengolahannya untuk menggabungkan semua data.

Jika ingin mengetahui lebih detail atau tertarik menggunakan jasa kami dapat menghubungi team kami melalui :
Email : andalan@andes.web.id
Whatsapp : 0812-2085-1981
Hp : 0811-2104-311

PERATURAN DRONE DI INDONESIA

REGULASI TENTANG PENGENDALIAN DAN PENGOPERASIAN DRONE

Regulasi yang berlaku untuk pengoperasian drone di Indonesia adalah PM 163 , PM 180 yang di jelaskan secara rinci pada bagian Lampiran‐1 dan dengan PM 47 sesuai perubahan Lampiran‐1 (dari PM 180) Sub‐bagian 3.11 dan Bagian 5, yang dijabarkan sebagai berikut untuk diimplementasikan.

Dalam peraturan tersebut secara jelas dinyatakan bahwa:

  • Pesawat udara tanpa awak tidak boleh dioperasikan di kawasan udara terlarang (prohibited area1), kawasan udara terbatas (restricted area2), dan kawasan keselamatan operasi penerbangan (KKOP3) suatu bandar udara.
  • Sistem pesawat udara tanpa awak juga tidak boleh dioperasikan di ruang udara yang dilayani controlled airspace4 dan uncontrolled airspace5 pada ketinggian lebih dari 500 kaki atau 150 meter.

Kemenhub mengizinkan drone diterbangkan hingga di atas ketinggian 150 meter. Namun sang operator atau pilot harus punya izin operasi pesawat tersebut dan berkoordinasi dengan unit navigasi penerbangan yang bertanggung jawab pada ruang udara terbang pesawat tersebut.

Perubahan peraturan tersebut memberi hak kepada Kemenhub untuk menjatuhkan sanksi atau TNI untuk menembak drone yang dinilai membahayakan saat diterbangkan, salah satu alatnya adalah menggunakan “drone‐jamming”.

Kemenhub juga dapat menjatuhkan sanksi apabila drone dioperasikan di Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan (KKOP). Kawasan itu adalah bandara, kawasan “controlled airspace”, dan “uncontrolled airspace” pada ketinggian lebih dari 500 kaki atau 150 meter di atas permukaan tanah.

Selain Kemenhub, TNI juga bisa memberikan sanksi apabila drone dioperasikan di kawasan udara terlarang (prohibited area) dan kawasan udara terbatas (restricted area). Kawasan terlarang tersebut antara lain Istana Kepresidenan, kilang minyak, dan pangkalan udara TNI.

Adapun sanksi yang dikenakan kepada operator/pilot adalah administratif berupa peringatan, pembekuan izin, pencabutan izin, dan denda administratif. Denda administratif yang dimaksud adalah membayar antara 1.001 hingga 3.000 “penalty unit”. Satu unit penalti senilai Rp100.000.

Sumber informasi :

Peraturan Menteri: http://jdih.dephub.go.id/produk_hukum/view/
Aeronotical Information Publication (AIP) https://aimindonesia.dephub.go.id/signin.php

loading…

PENCITRAAN UDARA DENGAN DRONE (UAV)

PENCITRAAN UDARA DENGAN MENGGUNAKAN DRONE (UAV)

Teknologi pencitraan udara dan fotogrametri UAV meningkat dengan sangat cepat. Tidak mengherankan karena dengan menggunakan GPS yang memungkinkan UAV untuk melakukan survei foto udara dengan  biaya sangat hemat jika dibandingkan dengan menyewa pesawat terbang dengan peralatan fotogrametri yang besar dan tidak praktis karena dengan menggunakan teknologi UAV pemetaan relatif murah, banyak organisasi akan memiliki armada drone pemetaan sendiri, memungkinkan dilakukannya survei cepat mengenai area lahan yang luas bila diperlukan.

loading…

Dengan menggunakan GPS drone, kamera digital dan komputer yang lengkap, survei dapat berjalan dengan akurasi hingga 1 sampai 2 cm,  dalam artikel ini secara keseluruhan membahas teknologi pencitraan dengan drone maupun uav wing mapping . Kami juga melihat sekilas sektor yang mendapat manfaat dari penggunaan UAV untuk pemotretan fotogrametri dan pemetaan. Kami juga melihat beberapa pemicu pemetaan terbaik di pasar bersama dengan perangkat lunak yang kompatibel. Penggunaan quadcopters dan multirotors dalam pemotretan fotogrametri dan pemetaan lidar masih dalam tahap awal. Ada banyak peluang hebat di berbagai sektor. Sekarang adalah waktu terbaik untuk menggunakan layanan UAV, fotogrametri, foto udara, 3D dan pemetaan.

Berikut adalah beberapa penggunaan terbaik dari teknologi UAV dan fotogrametri. Semua sektor ini mendapat keuntungan karena memiliki gambar 3D presisi dari penangkapan gambar tersebut . Mereka juga mendapatkan keuntungan dengan peningkatan efisiensi seperti citra satelit dan mengurangi biaya daripada menggunakan pesawat terbang konvesional . selain manfaat diatas ada beberapa tujuan / manfaat lainya dari lidar tersebut yaitu :

  • Pengelolaan dan pemetaan Kehutanan
  • Pemodelan Banjir
  • Pemodelan Polusi
  • Pemetaan dan Kartografi
  • Perencanaan Kota
  • Manajemen coastline
  • Perencanaan transportasi
  • Eksplorasi Minyak dan Gas Bumi
  • Tambang dan Mineral (Volumetrik dan Eksplorasi)
  • Arkeologi
  • Perencanaan Jaringan Seluler
  • Survey Konstruksi

Jika ingin mengetahui lebih detail mengenai aplikasi penggunaan sistem ini dapat menghubungi team kami melalui :
Email : andalan@andes.web.id
Whatsapp : 0812-2085-1981
Hp : 0811-2104-311